Site icon Inspirasi Muslimah

Harta, Ujian, atau Kemuliaan? Inilah Cara Pandang Para Ulama

ujian kenikmatan dunia

Imam Ibnu Qudamah, seorang ulama besar dari abad pertengahan, dalam kitabnya Mukhtashar Minhajul Qashidin, membuka pembahasan tentang tamak dan bakhil dengan satu bab penting yaitu celaan terhadap dunia (dzammud dunya). Ini menarik, karena sebelum membahas sifat buruk, Imam Ibnu Qudamah ingin kita memahami dulu akar masalahnya yaitu terlalu mencintai dunia. Al-Qur’an sendiri menjelaskan bahwa dunia memang menggoda. Lihat saja ayat dalam surat Ali Imran (3:14), wanita, anak, harta, kendaraan mewah, sawah ladang semua itu tampak memesona. Tapi Allah mengingatkan, semua itu hanyalah mata’ul hayatid dunya (kenikmatan yang sementara). Akhirat-lah tempat terbaik yang kekal.

Rasulullah Saw. juga pernah bersabda bahwa dunia ini lebih hina dari sayap nyamuk di sisi Allah. Artinya, seindah apapun dunia, nilainya nyaris tak ada jika dibandingkan dengan akhirat. Mungkin terdengar ekstrem, tapi begitulah dunia jika dilihat dari kacamata keimanan. Rasulullah menyebut dunia sebagai penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir. Mengapa begitu? Karena seorang mukmin tak boleh bebas mengikuti hawa nafsu di dunia ini. Ada rambu-rambu syariat yang membatasi. Tapi semua itu demi kebaikan, demi tujuan akhir yaitu surga.

Dalam kitab tersebut, ada juga tulisan surat dari Hasan Al-Bashri kepada seorang khalifah agung, Umar bin Abdul Aziz. Isinya? Teguran lembut tapi menusuk. Hasan Al-Bashri mengingatkan sang penguasa bahwa dunia ini bukan tempat tinggal abadi. Dunia adalah tempat ujian. Bahkan, Adam AS diturunkan ke dunia karena kesalahan bukan karena dunia itu tempat mulia. “Jangan kamu jadikan dunia sebagai rumah tinggalmu,” tulis Hasan Al-Bashri. “Ia hanya seperti bayangan, cepat berlalu. Dunia akan menghinakan siapa saja yang memuliakannya terlalu dalam.”

Kekayaan sejati, menurut beliau, adalah qana’ah (merasa cukup). Sayangnya, banyak orang, termasuk pejabat, justru terperosok karena ketamakan. Bukan karena kekurangan, tapi karena tidak pernah merasa cukup. Dan di situlah muncul penyakit bakhil (takut kehilangan, takut memberi). Hasan Al-Bashri menggambarkan dunia dengan sangat puitis. Dunia seperti racun yang tampak manis. Menjadi halus dan lembut saat didekati, tapi menusuk dari belakang. Orang-orang terpedaya. Mereka terus mengejar dunia tanpa tahu batas, sampai akhirnya mereka sendiri terjerat.

Maka beliau menutup suratnya dengan kalimat yang menyadarkan: “Jika engkau lebih memuliakan dunia dibanding akhirat, maka engkau sedang mendahulukan yang sementara atas yang kekal.”

Dunia tak pernah salah. Tapi saat kita menjadikannya pusat kehidupan, di sanalah bencana dimulai. Jika kita merenungkan kembali kisah yang disampaikan oleh Hasan al-Bashri, Malik bin Dinar, hingga Imam Ibn Qudamah, maka terang benderanglah satu pesan penting yaitu “Dunia bukan tujuan, ia hanya sarana“. Sarana menuju akhirat, tempat tinggal abadi yang menjadi orientasi utama seorang mukmin.

Nabi Muhammad saw telah menolak seluruh kunci kenikmatan dunia. Bukan karena beliau tidak mampu atau tidak diizinkan oleh Allah, tetapi karena beliau tahu bahwa dunia ini hanyalah tempat ujian, bukan tempat tinggal selamanya. Ini adalah pelajaran besar: jika Rasulullah saw yang paling dicintai oleh Allah saja tidak menjadikan dunia sebagai orientasinya, mengapa kita yang penuh dosa justru terjebak mencintainya secara berlebihan?

Kisah tragis dialami oleh Rajjal bin Unfuwah adalah cerminan nyata bagaimana dunia bisa menjadi sihir yang menyesatkan bahkan untuk seorang ulama yang pernah bersyahadat di hadapan Rasulullah. Ketika dunia masuk ke hati, ia bisa membutakan iman, menutup akal sehat, dan mengubah seorang pencinta Allah menjadi pendukung kebatilan.

Inilah istidraj (pemberian duniawi yang penuh tipu daya). Dunia diberikan tanpa berkah, hingga pelakunya merasa dimuliakan padahal sebenarnya dijauhkan dari Allah. Sebaliknya, para nabi, para salihin, diuji dalam kekurangan namun itu bentuk kasih sayang Allah. Karena sebagaimana sabda nabi: “Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka.”

Dunia: Tergantung Bagaimana Kita Memaknainya

 

Imam Ibn Qudamah menjelaskan dengan sangat indah: “Dunia tidak tercela karena zatnya, tetapi karena cara manusia memperlakukannya.” Dunia bisa menjadi mulia jika digunakan untuk ibadah, amal, menolong sesama, dan memperjuangkan kebenaran. Dunia hanya akan hina ketika dijadikan tujuan, ketika ia masuk ke hati, ketika manusia menjadi tamak dan tak pernah merasa cukup.

Perumpamaan tentang unta adalah simbolik yang mendalam. Dunia seperti unta yang membawa kita pergi haji, berguna jika dipelihara secukupnya, namun bisa celaka jika kita terlalu rakus mengendalikannya. Dunia memang harus dirawat, dicari, dan dimiliki, tapi hanya sampai batas kita tetap menjadi tuannya, bukan budaknya.

Islam tidak melarang kekayaan, tidak menolak properti, tidak menentang usaha, dan tidak memusuhi kemajuan. Justru dalam sejarah kita mengenal sahabat-sahabat Rasulullah saw yang sangat kaya namun tetap zuhud yaitu Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, dan lainnya. Bedanya, mereka memiliki dunia tapi tidak dimiliki oleh dunia. Dunia di tangan, tapi hati tetap terpaut pada Allah.

Zuhud bukan berarti miskin. Zuhud adalah merasa cukup, tidak tamak, dan tahu bahwa dunia hanya sementara. Kita tetap boleh bekerja, membeli rumah, menabung, berinvestasi selama semua itu kita niatkan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.  Sebagaimana doa Rasulullah saw:

“Ya Allah, jadikanlah dunia di tangan kami, jangan di hati kami.”

“Jadikan kami kaya, tapi tidak tamak. Jadikan kami cukup, dan selalu bersyukur.”

Bagikan
Exit mobile version