Site icon Inspirasi Muslimah

Era Globalisasi : Reposisi Peran Perempuan

Era globalisasi perempuan

Globalisasi berasal dari kata global yang artinya universal. Globalisasi juga merupakan suatu proses antar individu, antar kelompok dan antar negara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan memengaruhi satu sama lain yang melintasi batas negara. Era globalisasi seolah-olah menjadi solusi atas masalah penindasan dan diskriminasi kaum perempuan.[1]

Pembahasan mengenai perempuan merupakan pembahasan yang selalu menarik dan tidak ada habisnya. Pembahasan tersebut sekarang tidak hanya pembahasan domestik maupun publik, namun sudah menjadi pembahasan global. Membicarakan perempuan ibarat membicarakan sayur di meja makan. Perannya bisa sangat bervariasi, tergantung pemilik meja makan tersebut.

Menurut data sejarah, bangsa Indonesia telah mengenal emansipasi sejak masa lampau. Sedangkan, dari perspektif agama, tidak ada ajaran yang menganjurkan tindak diskriminatif terhadap perempuan. Namun belakangan ini sudah banyak terjadi tindak diskriminatif terhadap perempuan ataupun permasalahan lain mengenai perempuan. Banyak yang melatar belakangi masalah-masalah tersebut, salah satunya yakni semakin komplek tuntutan peran perempuan seiring perkembangan zaman.

Proses globalisasi lahir dari adanya perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, transportasi, dan komunikasi. Sebagian pihak mengatakan globalisasi merupakan sebuah ancaman, namun sebagian pihak lain mengatakan globalisasi merupakan sebuah peluang. Dewasa ini, peran perempuan semakin marak dan menduduki posisi penting dalam berbagai bidang. Akan tetapi dalam kehidupan masyarakat masih terdapat berbagai ketimpangan mengenai peran perempuan.

Tiga Peran Aktif Perempuan Pada Era Globalisasi

Pertama, Peran Normatif yaitu perempuan sebagai ibu rumah tangga yang tidak boleh dianggap remeh. Tugas-tugas rumah tangga dan keluarga oleh seorang perempuan lakukan tidak hanya memiliki nilai tambah untuk kesejahteraan dan kebahagiaan keluarga. Namun juga memiliki nilai tambah untuk kekuatan tenaga kerja saat ini dan masa yang akan mendatang. Perempuan tidak sekedar mengasuh dan membesarkan anak, tetapi juga mengurus suami atau anak yang telah dewasa dan bekerja. Di samping mendidik anak oleh keluarga, agar lebih optimal kehadiran sosok ayah sebagai orang tua juga penting. Dalam hal ini keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat diharapkan mampu menghadapi pengaruh negatif di era globalisasi dengan menyesuaikan diri terhadap tuntutan positif era globalisasi.

Kedua, Peran Substantif yaitu peran perempuan dalam kehidupan bermasyarakat, terutama dalam kegiatan sosial. Kehidupan bermasyarakat pada era globalisasi ini sangat kompleks, sehingga menyita waktu para ibu atau perempuan. Partisipasi perempuan dalam organisasi kemasyarakatan mencakup keterlibatannya dalam organisasi fungsional, terlebih dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Upaya pemberian pelayanan kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan keluarga kepada masyarakat perlu melibatkan berbagai pihak. Walaupun pihak pemerintah dalam hal ini merupakan inisiator. Akan tetapi peran serta masyarakat dalam mendukung keberhasilan hal tersebut merupakan hal yang vital. Dalam hal inilah peran sosial-politik kemasyarakatan perempuan terutama dalam hal pelayanan ditujukan kepada peningkatan kualitas sumber daya manusia memegang peranan penting dalam upaya pembangunan bangsa. Pada era globalisasi ini terbukti bahwa peran sosial-politik perempuan memberikan dampak positif bagi perempuan itu sendiri, keluarganya, dan masyarakat luas.

Ketiga, Peran Prestatif merupakan peran untuk mengembangkan prestasi dan karir sesuai dengan keahlian. Pada era globalisasi, kualitas tenaga kerja perempuan sangat menentukan. Oleh karena itu, tenaga kerja perempuan perlu pemerintah siapkan kualitasnya untuk menghadapi tantangan dan kompetisi dalam berkarir. Terutama dalam hal pendidikan, yaitu penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi pendidikan moral serta derajat kesehatan perempuan dalam upaya menciptakan perempuan karir yang berkualitas.

Reposisi Peran Perempuan

Perkembangan teknologi dan kemajuan ilmu pengetahuan terus berlanjut dengan hebat dan cepat. Sehingga pengaruh perkembangan tersebut sangat terasa dalam berbagai aspek kehidupan. Pada era globalisasi ini upaya mereposisi peran perempuan sangatlah tepat untuk memacu terwujudnya kesetaraan gender. Gender merupakan hasil konstruksi sosial-kultural sepanjang sejarah kehidupan manusia, yang menyangkut fungsi, peran, hak, dan kewajiban.[2] Gender bukan jenis kelamin, namun gender dapat terjadi pada perempuan maupun laki-laki. Tetapi kondisi yang sekarang banyak menimbulkan berbagai penafsiran dan makna mengenai gender tersebut.

Berbagai macam perspektif bias gender dalam publik perlu dikoreksi. Agar visi, misi, dan tujuan pemberdayaan perempuan tetap mempertahankan nilai historis perjuangan kaum perempuan dan nilai persatuan serta kesatuan. Dalam merealisasikan hal tersebut memang tidak mudah, pemerintah juga perlu memiliki komitmen yang sungguh-sungguh agar terciptanya kesetaraan gender. Kesamaan kondisi laki-laki dan perempuan dalam memperoleh kesempatan dan haknya sebagai manusia agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi, politik, pendidikan, sosial budaya, dan pertahanan keamanan dengan perlakuan yang sama.

Apabila kesetaraan gender dapat perempuan nikmati, maka akan tumbuh keadilan gender. Perlakuan terhadap laki-laki dan perempuan yang menghambat secara psikis, politik, sosial, dan budaya perlu kita hentikan secara bersama-sama. Sehingga laki-laki dan perempuan dapat berperan dan menikmati hasil peranannya masing-masing. Berangkat dari peran perempuan dalam bidang ekonomi, politik, sosial budaya, pendidikan, kesehatan, dan hukum masih sangat rendah, yang berakibat pula pada rendahnya kualitas hidup perempuan.

Perempuan merupakan elemen penting dalam sebuah negara layaknya seorang pria memegang peranan penting dalam pembangunan sebuah negara. Pada era global ini banyak hal yang dapat diperankan perempuan di ranah publik. Dengan terbukanya peluang dan kesempatan bagi perempuan di ranah publik, perempuan memiliki banyak pilihan sesuai dengan kemampuannya. Oleh karena itu, reposisi peran perempuan era globalisasi yaitu bagaimana perempuan dapat melintasi ranah domestik ke ranah publik maupun sebaliknya dengan aman dan mantap.

Editor : Fadhil Azhar Permana


[1] Komang Adi, Peran Perempuan dalam Pembangunan di Era Globalisasi, Artikel, (Universitas Udayana: 2018), h. 6

[2] Yunahar Ilyas, Kesetaraan Geder dalam Al-Qur’an, (Suara Muhammadiyah: Yogyakarta, 202), h. 2

Bagikan
Exit mobile version