Site icon Inspirasi Muslimah

Di Bawah Naungan Payung-payung Nabawi

payung

Fataty Maulidiyah

Di padang mustajab itu Salma berdoa. Mengharap dan berbisik lirih penuh takdim. Menyebut asma Allah dalam kesungguhan dan penuh kerendahan. Memejamkan mata dan dia biarkan air bening itu membasahi seluruh wajahnya.

Kelopak matanya terpejam sangat lama. Doa-doa itu seakan tak putus ia panjatkan. Sudut hatinya masih ada seraut wajah yang belum bisa ia lupakan. Seseorang yang belum bisa membuat hatinya beranjak. Seseorang laki-laki yang ia cintai dalam diam. Namanya hanya dia sebut dalam doa. Salma belum bisa menerima kehadiran laki-laki lain sedangkan usianya sudah beranjak 28 tahun.

Salma rela menanggung julukan “perawan tua”, atau perempuan yang “pilih-pilih” di saat beberapa orang ingin menjodohkannya. Hanya karena ia ingin meyakini cintanya. Cinta yang belum diketahui siapapun. Termasuk laki-laki yang sangat dia cintai. Salma hanya bersandar pada sang penggenggam cinta. Penguasa hati yang bisa membolak-balikkan dengan mudah. Air mata yang luruh bersama hujan di Arafah itu tuntas membasahi semua lafaz dan nama yang telah ia sebut ribuan kali.

Banyak orang yang memandang sinis sikap Salma ini. Bahkan ada yang menyumpahinya  tidak laku dan tidak akan ada laki-laki yang mau mendekatinya. Namun banyak pula yang selalu memberinya perhatian. Setiap kali ada acara lamaran dan pernikahan, rangkaian melati pengantin perempuan maupun bunga hiasan seserahan dalam lamaran diberikan padanya. Termasuk berusaha menjodohkan dirinya. Dan Salma menerima itu semua.

Bahkan pernah suatu ketika seorang perempuan jawa yang tinggal sendirian, biasa dipanggil Eyang, memanggilnya untuk datang ke rumah. Dua buah pisang dempet  itu diberikan pada Salma untuk dimakan saat itu juga, setelah dibacakan suatu doa-doa. Salma pun menurut , memakan dua buah pisang dempet  saat itu juga sampai tak tersisa . Menurut Eyang hal itu bisa mendatangkan jodoh untuknya.

***

Langit di Arafah perlahan berwarna kelabu. Gerimis turun lalu menjadi rinai. Alas duduk berbahan anti air itu ia ambil untuk melindungi kepalanya. Salma menangis bersama hujan di hari Arafah. Airmatanya makin membanjir bersama hujan. Salma tidak beranjak. Dia menggumankan lafaz tanpa henti. Di hari Allah menurunkan trilyunan malaikat, mendatangi hamba Allah yang memenuhi undanganNya, Salma menyelipkan doa untuk seseorang yang sangat dicintainya.

Tak hanya itu, wajah sang Ibunda memenuhi horizon pandangannya. Salma sangat menyayangi ibunya. Juga, Salma tahu, keteguhan hatinya menolak beberapa perjodohan telah mengecewakan ibunya. Salma tahu, ibunya sangat  ingin melihatnya berada di pelaminan bersanding dengan seorang pria. Kata ibunya, yang penting taat agama dan bertanggungjawab. Namun Salma memang tidak sama dengan perempuan-perempuan lain yang mungkin lebih realistis dan mudah menerima perjodohan.

Usia menjelang kepala 3 tentu bukan saat yang tepat untuk berpegang teguh pada prinsip-prinsip yang sebenarnya tidak perlu dipegang teguh. Seperti prinsip bisa bersatu dengan seseorang yang dicinta, apalagi seseorang itu tidak diketahui keberadaannya. Hanya  perjumpaan satu kali. Namun bagi Salma perjumpaan sekali itulah yang mengikat hatinya sampai selama ini.

Sekitar 4 tahun yang lalu, dalam sebuah acara yang ia ikuti, di sebuah masjid agung di kotanya, sebuah tausiyah singkat, dari seorang dai muda. Salma hanya memandangnya sekilas dari  tempat jamaah khusus perempuan. Kalimat-kalimat sejuk yang merasuki hatinya. Sebuah kutipan-kutipan hikmah dari Syaikh Ibnu Athaillah, terasa begitu menyita perhatiannya. Salma hafal suara itu, ia mengingatnya dalam-dalam, dan sejak itu hatinya senantiasa bergetar.

Dai muda itu dengan sepenuh penghayatan membacakan kutipan surat-surat Ibnu Athaillah dalam Kita Al Hikam.

Surat-surat Ibnu Athaillah untuk muridnya:

Di mana ada permulaan di sana ada kesudahan. Orang yang permulaannya dengan Allah maka kesudahannya pun dengan Allah. Sejatinya, perkara yang menyibukkan adalah perkara yang kaucintai dan perkara yang ingin segera kau jumpai.

Siapapun yang mengetahui bahwa semua perkara berada di tangan Allah maka dia akan menghimpun seluruh kepasrahan diri dengan-Nya. Namun, untuk membangun pandangan seperti itu, dia harus meruntuhkan pilar-pilar penyangga lainnya dan menanggalkan kemuliaan-kemuliaan yang dirinya. Ketahuilah, orang yang berakal akan memilih perkara yang lebih kekal dan lebih menyenangkan baginya karena mengakui dirinya fana. Maka bersinarlah cahayanya.

Salma merasa jatuh cinta seketika. Ia telah terjerat pesona laki-laki yang membacakan penggalan surat Ibnu Athaillah. Siapapun dia, yang saat itu suaranya ia dengar dan ia abadikan dalam benaknya.

****

Hari-hari haji telah berlalu, kaki Salma kini telah menapak selasar berkarpet hijau yang beraroma harum. Setelah tangisan dalam “Taman Surga” itu, telapak tangannya yang masih menggenggam lembaran shalawat Jazariyah, dengan kelopak matanya yang selalu menggenang, Salma mengingat banyak hal.

“Nduk. Ibu mengerti perasaanmu. Namun bila kamu memang tidak bersedia menerima tawaran perjodohan dari Bulekmu, tak apa. Ibu tidak memaksa. Berumah tangga bukan untuk 1-2 tahun tetapi perjalanan seumur hidup. Ibu tak ingin, kamu tidak bahagia menjalani pernikahan itu kelak. Ibu hanya ingin, kejarlah tambatan hatimu, mintalah pada Zat yang menggenggam jiwa dan hatinya agar dia dipertemukan denganmu”.

Salma makin berlinang airmata. Salma bersimpuh dan menangis sesenggukan seraya menutup wajahnya dengan sepasang telapak tangan. Pesan ibunya yang sejuk laksana air zam-zam, begitu menenangkan jiwanya, di kala mengantar keberangkatannya ke tanah suci. Namun kesejukan itu juga bercampur dengan kesedihan. Kesedihan tentang sikapnya yang belum juga bisa membahagiakan dan melegakan hati ibunya. Di tanah penuh berkah inilah, Salma sedang berjuang.

****

Pagi itu terasa syahdu. Gradasi langit seusai malam terlipat waktu pagi, gradasi langit biru keunguan menaungi kota cahaya ini, menemani zikir pagi yang Salma gumamkan.  Payung-payung Nabawi mengembang menyambut mentari yang kian hangat. Salma telah berhenti menangis. Ia selesaikan semua kegelisahan hatinya yang ia bawa dari tanah air menuju bumi Hijaz ini. Ia telah melalui rangkaian rukun Islam ke-5, ia sudah berkali-kali menziarahi makam Rasul, dan setelah semua itu, Salma hanya menyerahkan segalanya hanya kepada Allah.

Pada pagi itu, bibirnya menyunggingkan senyuman. Ia telah selesai. Selesai melawan dunia yang tidak menyepakati sikapnya. Selesai menggelisahkan berbagai perundungan. Ia juga selesai dengan cinta yang telah ia perjuangkan. Salma tak lagi merasa harus teguh untuk selalu membela batinnya. Kini ia telah lapang. Ia pasrah. Karena ia telah meminta. Salma tak perlu lagi merongrong Tuhan dengan permintaan-permintaan lagi. Karena semua telah ia langitkan. Salma mengerti Tuhan ‘tlah mendengar doanya.

Salma bersimpuh menengadah kearah langit biru, menggenggam tasbih batu Yaman, menggumankan zikir tanpa putus. Hijab hitamnya tersibak angin sejuk, dengan tetap menyendiri memeluk kepasrahan. Di sana, di bawah naungan payung-payung Nabawi.***

Bagikan
Exit mobile version