Kepergian mbah Malik masih menyisakan duka yang dalam bagi kita semua. Umat dan bangsa telah kehilangan sosok tokoh yang berperan dalam memajukan pendidikan di Indonesia. Keteladanan serta nasehat dan pemikiranya dalam hal pendidikan masih kita rasakan sampai sekarang. Kebijakan-kebijakan beliau saat masih di kementrian; baik sebagai menteri agama dan menteri pendidikan adalah bukti kepedulian beliau terhadap kemajuan pendidikan di Indonesia.
Sebagai seorang tokoh Muhammadiyah yang sangat dihormati; beliau menutup usianya di umur 81 tahun, usia yang dianugerahi oleh Allah melampaui usia Nabi Muhammad Saw ujar buya Syafi’i Ma’arif dalam vlognya di Instagram. Hampir setiap generasi yang pernah bertemu dengan mbah Malik merasakan betapa sedihnya ditinggal oleh beliau; dan tak akan mungkin mendapatkan nasehat-nasehat darinya lagi.
Suatu ketika kami para dosen muda Universitas Muhammadiyah Malang yang tergabung dalam CMM (Cendekiawan Muda Muhammadiyah); diundang dan dikumpulkan di sebuah meja bundar. Dengan sebatang rokok kesukaannya beliau mengajak berdiskusi, berdialog dan bercerita bagaimana kiprah beliau dalam membesarkan Muhammadiyah; memperjuangkan nilai-nilai moral Islam yang menggembirakan kepada masyarakat luas.
Wejangan yang diberikan tentunya menjadi sebuah tamparan bagi kami yang belum seberapa bila dibanding apa yang sudah diperjuangkan oleh beliau ketika masih muda. Wejangan dan nasehat terus diberikan dan membuat dahi kita merengut, merenungkan, serta memikirkan bagaiman kita bisa menata kembali dan memperjuangkan Islam yang rahmatan lil alamin melalui persyarikatan Muhammadiyah.
Kami sangat senang dan bersyukur generasi kami yang baru lahir di tahun 70-an hingga 90-an mendapatkan kesempatan berdialog dengan beliau serta mendapat cipratan nasehat, mampu membuat hati kita tersentak bahwa masih banyak yang perlu diperbaiki dan diperjuangkan, tugas kami masih panjang dan seolah-olah mbah Malik menaruh harap kepada yang muda-muda agar bisa meneruskan perjuangan beliau melalui persyarikatan Muhammadiyah. Mengingat usianya yang sudah menginjak 80-an tahun.
Jangan Seperti Kuburan Cina
Dalam waktu dialog yang terbatas, tentunya nasehat yang diberikan lebih dari cukup, namun satu yang masih saya ingat adalah nasehat beliau agar kita jangan seperti “kuburan cina”. Seperti yang kita ketahui bersama “Kuburan Cina” merupakan tempat pemakaman yang begitu megah. Dengan bangunan yang luas seluas bangunan rumah dan bentuk arsitektur yang indah membuat makam tersebut tidak seperti makam-makam yang lain; yang lebih terlihat menakutkan dan angker.
Bagaimanapun juga keindahan dan kemegahan “kuburan cina” yang namanya makam tetaplah makam; yang isinya tidak lain hanyalah jasad manusia yang sudah meninggal. Perumpamaan yang dilontarkan oleh mantan Rektor di dua Universitas UMM dan UMS ini adalah nasehat yang bijak; agar kami yang muda-muda tidak mengejar kemewahan kegagahan namun tidak ada isinya seperti perumpamaan tersebut.
Apalah arti sebuah kampus yang terlihat begitu mewah, gedung yang menjulang, kampus yang luas, indah, dan terlihat gagah; bila tidak ada “isi” sama halnya dengan “kuburan cina” yang tidak isinya melainkan sebuah mayat yang tidak bisa berbuat apa-apa. Perumpaan ini sama halnya dengan organisasi besar bila tidak bermanfaat bagi yang lain organisasi tersebut tidaklah berbeda dengan “kuburan cina” tersebut.
Kritik Sosial pada Mereka yang Tidak Memberi Manfaat
Bila ditarik dalam kehidupan sehari-hari, perumpaan dari mbah Malik merupakan sebuah bentuk kritik sosial bagi individu yang suka kemewahan dan kekayaan; namun tidak memberi manfaat bagi yang lain. Mereka itu tidaklah berbeda dengan mayat yang kelihatan megah dari sisi luarnya namun busuk di dalamnya.
Nabi sendiri melarang umatnya agar tidak memupuk kekayaan, memonopoli ekonomi, menindas sesama. Sehingga dalam Islam terdapat konsep kewajiban zakat sebagai bentuk kepedulian sosial agar tidak terjadi kesenjangan sosial, jurang ekonomi, dan penindasan.
Tentunya nasehat tersebut kiranya dapat kita resapi dan renungkan, baik dalam kehidupan sehari-hari, kehidupan berorganisasi, di lembaga, dan di tempat-tempat lain. Dengan demikian, harapanya sebagai seorang muslim dapat bermanfaat bagi sesama dan mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Dengan meresapi nasehat beliau kita yang muda dapat mencontoh apa yang sudah diperjuangkan oleh mbah Malik dan melahirkan Malik-Malik yang lain. Terima kasih mbah Malik dan semoga Allah mengampuni dosa-dosa dan menerima amal kebaikanya. Amin.
Penulis adalah Dosen Hukum Keluarga Islam UMM dan Pencinta Film Kreatif Indonesia
