Site icon Inspirasi Muslimah

Childless dalam Sudut Pandang Keimanan

childless

Lina Prabawanti

Kerabat saya yang sudah menikah selama kurang lebih empat tahun mungkin jengah karena setiap bertemu kenalan lama. Basa-basi yang ia terima selalu sama, “Kapan punya anak?”

Entah sudah berapa kali dia menjelaskan bahwa dia memang tidak ingin punya anak. Dan selalu mendapat reaksi berupa tatapan mata tak percaya dari orang-orang di sekitarnya.

Masyarakat Indonesia terutama yang tinggal di pelosok dan sangat menjunjung tinggi proses reproduksi umumnya memang tidak mengenal gaya hidup childless ini dan hanya bisa  memberikan stereotip ‘mandul’ kepada semua pasangan yang sudah menikah cukup lama namun belum juga memiliki momongan.

***

Childless memang belum sepenuhnya belum mendapat pengakuan sebagai pilihan gaya hidup dalam kultur masyarakat Indonesia. Banyak yang belum paham, mengapa orang memilih untuk tidak memiliki anak. Sementara bagi kita sendiri anak sudah menjadi sumber kebahagiaan yang tak dapat ditawar lagi? Sebenarnya apa sih gaya hidup childless ini?

Memilih dengan kesadaran penuh untuk tidak memiliki anak sebenarnya bukan hal yang baru. Gaya hidup ini sudah mulai muncul pada akhir abad ke 20 di antara pengikut kepercayaan Maniise.  Pandangan ini memang terlalu ekstrim dan tidak ada bukti nyata bahwa di Indonesia ada pengikutnya.

Bagi kita umat beragama, gaya hidup ini tentu saja bukan pilihan kita. Kita percaya bahwa kehadiran anak adalah titipan Tuhan yang harus kita jaga dengan baik sebagai penerus bagi kehidupan umat manusia di dunia.

Gaya hidup childless di Indonesia menjadi pilihan bagi beberapa orang dengan beragam alasan. Dan seringkali alasannya cukup praktis dan masuk akal, seperti alasan ekonomi. Karena merasa tidak sanggup memberikan kehidupan yang cukup layak dan sejahtera kepada anak-anaknya kelak. Maka pasangan bisa memilih untuk sama sekali tidak memiliki anak.

***

Alasan lainnya yang bisa mendasari keputusan untuk memilih gaya hidup ini adalah pandangan bahwa anak adalah beban yang membuat orang tuanya terikat dan kehilangan kemerdekaan. Hal ini terjadi pada pasangan muda yang memang belum siap untuk memiliki anak, namun sifatnya hanya sementara saja. Seiring dengan semakin matangnya usia, kerinduan untuk memiliki keturunan bisa datang dengan tiba-tiba.

Pasangan yang terlambat menikah sehingga sampai kepada usia yang cukup rawan bagi perempuan untuk melahirkan mungkin juga memilih untuk tidak memiliki anak kandung. Tentunya bagi kategori ini masih tersedia opsi untuk memiliki anak angkat.

Namun ada satu alasan yang mau tak mau harus kita hargai, yaitu alasan kesehatan. Ada kalanya Tuhan memberikan ujian bagi pasangan yang sebenarnya ingin memiliki anak. Namun menderita penyakit tertentu yang tidak memungkinkan untuk melahirkan buah hati. Misalnya karena kanker rahim yang membuat bagian tubuh tersebut terpaksa diangkat.

***

Apapun alasan yang mendasarinya, sebagai umat beriman kita perlu memahami bahwa memiliki atau tidak memiliki anak adalah pilihan. Yang menjadi masalah, apabila dalam lingkaran keluarga terdekat kita ada yang memilih gaya hidup demikian. Apa yang yang harus kita lakukan?

Sebelum menghakimi dan memberikan stereotif tertentu, kita perlu memahami terlebih dahulu mengapa kerabat kita sampai memilih gaya hidup seperti itu. Apakah dia terlambat menikah sehingga saat ini sudah terlalu tua untuk mulai mengasuh anak, atau dia tidak menyukai anak kecil. Takut dengan kerepotan dalam mengurus anak atau justru karena menderita penyakit tertentu?

Dengan memahami alasannya, kita bisa mulai menentukan sikap. Kalau dia memang sudah terlalu tua untuk memiliki anak, tentu kita harus mendukung pilihannya. Kasihan juga bila anak memiliki orang tua dengan rentang usia sangat jauh. Pilihan untuk tetap childless hingga akhir hayat mungkin sudah tepat baginya.

Bagi kerabat kita adalah pasangan muda yang memilih gaya hidup childless ini sebagai gaya hidup sementara karena belum siap memiliki anak juga tak perlu kita tanyakan kesiapannya. Toh anak yang lahir di tengah orang tua yang kurang bertanggung jawab nantinya juga akan menjadi anak yang tidak bahagia. Biarkan saja mereka dengan pilihannya karena itu juga yang terbaik untuk semua.

Namun bila kerabat dekat kita dengan terpaksa memilih gaya hidup childless karena mendeita penyakit tertentu yang tidak memungkinkannya memiliki anak. Sebagai umat beriman justru kita harus tetap berada di sisinya dalam upaya membesarkan hatinya.

***

Apabila kita cermati, memiliki kerabat dekat dengan pilihan gaya hidup childless membuat kita menyadari bahwa tak semua hal di dunia ini sesempurna yang kita harapkan. Bahwa menjadi sempurna dalam definisi kita pun ternyata tidak sama dengan menjalani kehidupan sempurna versi orang lain.

Ada kepingan yang tak bisa dengan mudah kita cerna tanpa kita membuka diri untuk menerima sudut pandang yang berbeda dari kita.

Bagi kita yang sudah berkeluarga dan diberkahi dengan buah hati, mungkin kita tak terlalu paham akan pilihan gaya hidup childless ini. Namun sebagai umat beriman kita perlu menyadari bahwa takdir Tuhan adalah misteri bagi kita. Bisa jadi pasangan yang memilih gaya hidup ini ternyata menjalani kehidupan yang bahagia dan sempuna sesuai versi mereka sendiri.

Untuk menggenapi kesempurnaan itu, kita bisa  membantu mereka menjelaskan kepada kenalan yang rajin bertanya, “Kapan punya anak?” supaya tak lagi menjadi kerikil pengganggu dalam interaksi kehidupan sosial pasangan yang memang dengan sadar dan penuh pertimbangan memilih untuk tidak memiliki anak.

***

Meskipun belum jamak, tak ada salahnya kita mulai menghormati pasangan yang memilih gaya hidup childless sebagaimana kita menghormati pilihan setiap orang untuk memilih agama dan kepercayaannya sebagai hak asasi yang dimiliki dan tak layak dipertanyakan lagi.

Pasangan yang memilih gaya hidup childless menurut saya adalah manusia-manusia yang independent dan pemberani.  Di tengah arus masyarakat yang umumnya menaruh harapan untuk menggantungkan hari tua di bahu anaknya, mereka cukup tangguh untuk memilih tak memiliki gantungan itu.

Dengan keyakinan bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan garis hidup yang berbeda, bisa saja pilihan childless memang merupakan takdir yang melekati kehidupan mereka. Pilihan ini mungkin juga terpaksa mereka jalani sebagai bentuk ujian kehidupan yang dengan ikhlas wajib mereka tanggung dan kelak mereka pertanggungjawabkan kepada Dia Sang Pemberi Kehidupan.

Bagikan
Exit mobile version