Dalam berumah tangga, perselisihan merupakan hal yang wajar. Perbedaan antara kita dengan pasangan merupakan hal yang lumrah. Dibesarkan dari dua keluarga berbeda, tentu memiliki hal yang tidak sama.
Maka untuk memutuskan sesuatu dalam pernikahan tidak selalu bisa langsung klop. Adakala kita mengalami selisih paham dengan pasangan. Hingga pada titik tertentu, bisa jadi diantara kita atau pasangan yang mungkin menjadi keras dalam mempertahankan egonya. Seketika, entah kita atau pasangan bisa tersulut amarah.
Rumah tangga kita yang adem ayem menjadi panas dan mengerikan. Tidak ada rasa damai dan rasa nyaman ketika berada di rumah atau saat dekat dengan pasangan. Maka untuk mengatasi hal semacam ini Allah dengan jelas telah memberikan panduan kepada kita. Dalam firmanNya, QS. Al Imran ayat 159, yang artinya,
“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawaralah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.”
Melibatkan amarah saat berselisih dengan pasangan bukanlah hal yang sepele. Amarah yang dibiarkan berlarut tanpa menemukan penyelesaian bisa menimbulkan bencana. Maka Allah menjabarkan bagaimana cara mengatasi hal tersebut.
Dalam menghadapi amarah pasangan sungguh sukar bagi kita untuk tetap lemah lembut dan tak kasar. Maka Allah menerangkan bahwa apabila kita mampu melakukannya, itu adalah atas rahmatNnya.
Menjadi seseorang yang berkesadaran merupakan sesuatu yang menakjubkan. Bagaimana kita bisa menanggapi orang yang mungkin dalam keadaan tidak sadar karena emosinya. Orang tersebut kemudian marah, membentak, membanting barang, atau melakukan sederetan perilaku lain yang tidak menyenangkan diarahkan kepada kita. Dan kita masih bisa tidak melakukan perlawanan setara, malah sebaliknya kita bisa berlemah lembut dengan mereka.
Allah dengan jelas menyuruh kita sebisa mungkin untuk berlemah lembut dan menghindari perilaku keras dan berhati kasar. Hal ini kita lakukan agar mereka tidak menjauhkan diri dari kita.
Ketika pasangan tersulut emosi, dia bagaikan api yang membara. Panas dan tidak menyenangkan. Berlaku keras dan kasar layaknya menyiram api yang berkobar dengan bensin, sama saja telah berubah menjadi bahan bakar api tersebut. Kemarahan tidak mereda malah semakin menjadi.
Imbasnya, individu yang terbakar api kemarahan ini akan semakin sukar kita dekati. Kegagalan kita menjadi air untuk menenangkan dia mengakibatkan hubungan kita merenggang. Dia yang sudah marah, kita marahin balik akan enggan untuk mendekat.
Di sisi lain, saat kita yang mendapati pasangan yang tengah emosi, kita juga akan merasa tidak nyaman. Ada perasaan ingin lari menyelamatkan diri. Ada rasa malas untuk dekat-dekat. Jangankan dekat-dekat, memandang pasangan pun enggan. Bahkan jika berani kita mungkin akan balik marah.
Maka wajib hukumnya bagi pasangan yang sedang menemukan si dia marah harus sebisa mungkin berlemah lembut. Lalu, bagaimana cara kita untuk menenangkan diri kita, jika kita harus tetap berlemah lembut dan menahan respon kasar kita pada pasangan? Allah memberikan petunjuk sikap selanjutnya yang harus diambil adalah memaafkan mereka.
Kita maafkan segala kata kasar, maupun perilaku yang kurang berkenan. Kita tenangkan jiwa kita, tanamkan dalam diri bahwa kita harus memaafkan pasangan. Setelahnya mintakan ampun kepada Allah. Kita harus bersungguh-sungguh memohon pengampunan untuk pasangan dari Allah. Kita melakukan hal ini sambil menunggu pasangan kita menjadi tenang.
Lalu, semoga atas doa yang kita mintakan pada Allah ketenangan tercapai. Setelah tenang, barulah kita musyawarahkan bersama. Apapun yang menjadi pemicu masalah dan bagaimana solusi yang tepat kita sama-sama pikirkan dengan pasangan.
Kemudian langkah paling akhir adalah dengan bertawakkal atas keputusan yang dibuat bersama. Semoga keputusan yang dibuat merupakan keputusan terbaik dan berada di jalanNya.
**
Menuliskan atau membaca langkah ini terkesan mudah. Namun, ternyata susahnya bukan main. Apalagi untuk kaum perempuan yang memiliki kecenderungan, untuk menceritakan dan konfrontir apabila menghadapi suatu masalah. Timbul keinginan perempuan untuk segera menyelesaikan masalah.
Saya pribadi misalnya disaat ada masalah, saya cenderung untuk segera mendiskusikannya. Saya ingin cepat selesai masalah tersebut dengan langsung melakukan musyawarah. Meskipun, harus diakui tanpa adanya kepala dingin musyawarah tidak dapat dilakukan dengan baik.
Berbeda dengan pria yang akan lebih memilih untuk diam apabila memiliki masalah. Lalu, ketika istri mencoba membantu dengan ingin tahu masalah pria, suami kita menjadi marah. Suami saya contohnya, ketika menghadapi pelanggan yang ribet dia lebih suka diam. Apabila saya kepo, beliau akan marah.
Maka, dalam prakteknya, baik suami atau istri yang sedang “menerima emosi” pasangan harus bisa menahan ego. Mereka harus mampu menahan diri, dari membalas mereka baik secara verbal maupun nonverbal. Tahan saja, lalu dalam proses tahan menahan pembicaraan maupun perbuatan inilah saatnya kita mengalihkannya ke doa.
Kita mendoakan pasangan, kita mintakan ampunan pada Allah. Tidak lupa pula kita mintakan rahmat dari Allah agar membantu pasangan kita meredakan amarahnya. Hanya pada Allah hendaknya kita menyerahkan hati kita maupun pasangan. Semoga kita selalu mampu mejalankan kehidupan sesuai kehendakNya.
Ibu Rumah Tangga tinggal di Semarang. Bisa silaturahnmi via FB Anisa fitrianingtyas.
