Site icon Inspirasi Muslimah

Bising Dulu, Tenang Kemudian

bising

Harmoni-Widiya

Aku telah selesai membaca sebuah buku berjudul “Bising” karya Kurniawan Gunadi. Pertama kali temanku tahu kalau aku mau baca buku itu ia bilang, “Bising tambah bising dibaca, tapi ya dari situ ngambil banyak hikmah dan sudut pandang masalah.” Awalnya aku kaget, seperti agak menyesal mau baca buku ini. Gimana nggak? Masalahku sendiri saja sudah membuat hari-hari selalu bising, ditambah harus mengetahui masalah orang-orang? Kayaknya aku salah ambil buku.

Aku ingin bisa mengambil solusi dari kebisingan yang dihadapi saat ini melalui buku itu secara langsung. Nyatanya tidak sesederhana itu. Aku harus melalui banyak kisah orang-orang dengan berbagai masalahnya melalui buku itu. Aku kembali merasakan sedih, kecewa, sakit hati, terharu, marah, salah, kalah, tidak penting, insecure, dan akhirnya beruntung. Semuanya begitu sangat bising.

***

Semesta tidak pernah salah menghadirkan sesuatu dalam kehidupan kita. Selalu ada pesan dan hikmah yang dapat dipetik. Seperti hadirnya buku ini. Di awal mungkin tidak sesuai ekspektasi, tapi aku tetap berjalan maju karena yakin ada perantara dariNya yang bisa menyembuhkanku.

Melalui buku itu Tuhan menghangatkan hatiku; tidak apa-apa bersedih. Dia tahu kamu mampu menyelesaikannya. Air mataku jatuh, mengalir mendinginkan amarah. Ia menenangkan jiwaku yang sebelumnya angkuh merasa bahwa tidak selayaknya mendapat ujian ini. Maaf Tuhan, kecewaku berlebihan. Ku mohon ampunanMu agar hati ini lebih lapang menerima keadaan dan jiwa menjadi lebih teguh dalam pendirian di dalam kebenaran.

Di dalam “Bising” ternyata ada kehidupan orang lain yang menurutku jauh lebih menyakitkan dari batas mampuku. Orang lain bisa sabar dan ikhlas menjalaninya, maka dengan masalah yang aku jalani saat ini hanya sementara. Aku pun harus bisa melewatinya meski kadang terlihat rumit, tapi bukankah selalu saja ada kekuatan untuk bertahan dan melaju lebih tenang. Kebisingan yang Allah hadirkan, membuat kita belajar cara meraih ketenangan. Namun untuk mencapai itu kita selalu dihadang dan dibenturkan oleh tembok besar seperti ketakutan memulai langkah lagi, bersedih, berputus asa, tidak dipercaya orang lain, dan sebagainya. Menurutku itu hal wajar sebagai proses dari perjalanan mencapai ketenangan, karena tidak mungkin hadir rasa tenang sebelum kita melewati kebisingan. Jalani prosesnya dan temukan solusinya, kita belajar setiap waktu.

***

Sadarilah di dalam gelisah dan keputusasaan yang kamu rasakan, Tuhan tidak melepaskanmu sendirian. Di dalam sedih atau kecewa kamu masih Tuhan ingatkan agar ikhlas, sabar, dan memahami bahwa kecewa tak berujung tidaklah benar. Menyadari hal itu menjadi sebuah keberuntungan menuju jalan yang benar. Barangkali yang saat ini kamu jalani ialah salah satu wujud terkabulnya doa bahwa kamu hendak menjadi seseorang yang tangguh, maka jalannya pun Tuhan kabulkan di dalam ujian saat ini.

Aku jadi teringat nasehat seorang penyair, “Ketika kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan, ingatlah itu akan membawamu ke mana. Ketika kamu tidak mendapatkan apa yang kamu inginkan, ingatlah kamu sedang dijaga dari apa. Tidaknya Tuhan itu bukan penolakan, itu pengarahan.” (zha) Nasehat itu memberiku semangat kembali bahwa tidak apa untuk tertunda memiliki segala sesuatu yang kita inginkan karena pengarahan Tuhan jauh lebih menguntungkan kita jalani. Di jalan itu, kita merendahkan diri memilih melewati jalan yang Tuhan ridai. Sejatinya hati telah tertaut pada restu illahi. Semoga kekecewaan juga tidak lagi menghampiri.

Kegagalan bukan suatu kutukan atau hal yang harus kamu sembunyikan. Pengalaman itu memberi kita ruang untuk menyepi dan mendengarkan kata hati lebih jeli. Memberi jeda untuk menolong diri kita sendiri dengan menemukan bagian-bagian yang perlu kita perbaiki. Lagipula Tuhan menyukai orang-orang yang berusaha dan untuk hasil yang belum diketahui seperti apa, kamu memiliki doa. Semoga Tuhan memudahkan segala niatmu.

***

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ ࣖ

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al Baqarah : 216)

Allah mengetahui yang terbaik untuk hambanya. Begitulah indahnya ayat yang mengajarkan bentuk kepasrahan padaNya, karena semua Ia cipta untuk kebaikan kita. Saudaraku, semoga di dalam kesulitan yang kamu hadapi saat ini kita tetap berpegang teguh pada keimanan. Beban yang Allah titipkan saat ini mampu membuat diri semakin kuat menapaki dunia fatamorgana menuju Jannah abadi.

Bagikan
Exit mobile version