Kisah ini berawal dari kegiatan pengabdian masyarakat. Yakni kegiatan pendampingan pada sejumlah petani dan pengelola aneka makanan dan minuman yang terbuat dari salak di daerah Turi, Sleman, D.I.Yogyakarta.
Berawal pada bulan Agustus 2018. Saat itu, sejumlah petani merasakan harga salak yang mengalami penurunan di pasar; sehingga banyak salak yang tidak terjual seperti biasanya dan kondisi ini membawa inisiasi bagi sejumlah petani untuk bergerak.
Karena sebagian warga yang merupakan petani masih belum teredukasi dalam pengelolaan salak hasil panen. Maka dengan bekerjasama antara pegiat usaha salak dan tim pengabdian masyarakat, terciptalah sebuah kegiatan bertajuk pendampingan dengan tema ‘Merencanakan Hidup dengan Berwirausaha’.
Pendampingan Petani Salak
Kegiatan pendampingan ini, sebelumnya, sudah menjadi bagian dari upaya menggerakkan petani salak untuk belajar dalam mengelola produk salak yang merupakan hasil dari lahan pertanian.
Upayanya yakni dengan memberikan edukasi berupa pendampingan dalam membentuk rintisan pejuang usaha. Yaitu dimulai dengan tahapan diskusi dilanjutkan dengan simulasi tentang beberapa hal berikut ini: pertama, memastikan alasan perintisan usaha. Apakah berpola pada penyadaran kolektif petani untuk berwirausaha ataukah adanya motivasi lain.
Kedua, Mendobrak keterbelengguan yang selama ini menjadi ragam alasan tidak berkembangnya kreativitas usaha petani salak; di antaranya keterbatasan seperti tidak memiliki ilmu usaha, kurang bergaul/ jaringan usaha, kekurangan dari cara berfikir dan bersikap.
Kondisi tersebut harus di ubah dengan kesiapan perubahan. Yaitu dengan penyadaran diri untuk berani memulai, kuat dalam menghadapi masalah baik hal yang menyertai sebagai petani lokal maupun wirausaha serta siap untuk menjadi petani yang sukses atas capaian usaha.
Untuk hal yang terakhir ini tidaklah semua petani siap dalam menyikapi capaian. Sebab dalam realitasnya, capaian akan menjadi hebat manakala hal itu dapat dipertahankan, bukankah mempertahankan capaian lebih sulit dirasakan dibandingkan dalam meraih capaian tersebut?
Tahapan Membangun Usaha
Tahapan berikutnya dalam pendampingan ini adalah bagaimana pencapaian untuk merintis dan membangun usaha? Yakni pertama, adanya kemauan menjadi kunci awal dalam memulai sesuatu. Tanpa kemauan capaian tidak bisa kita raih.
Kedua, hadirnya kemampuan tepatnya kapasitas untuk terus belajar meng-upgrade segala hal yang melingkupi diri; mulai dari hal sederhana yakni disiplin dalam membangun ketahanan emosi- mentalitas dan daya juang. Ketiga, kekuatan pokok adalah mencapai tujuan dari semua aktivitas rintisan.
Tujuan tidak dapat tercapai apabila tidak adanya dukungan sinergisitas dari banyak hal. Termasuk membangun komunikasi baik untuk membangun jaringan maupun komunitas.
Komunikasi memegang peranan penting dalam suatu interaksi sosial baik personal maupun antar personal. Baik formal maupun non formal. Melalui komunitas/ jejaring maka aktivitas dapat tergali secara optimal.
Membangun komunikasi dalam tahapan pendampingan ini membutuhkan sikap keterbukaan dalam membina hubungan sehingga maksud dapat tersampaikan dengan baik; proses pembelajaranpun dapat tercapai, kesadaran diri untuk saling membangun dan menguatkan dapat berjalan, serta integritas dalam merintis usaha dapat tercipta.
Aspek dalam Pendampingan Usaha
Ada beberapa aspek yang perlu mendapat perhatian dalam pendampingan usaha, yakni 6 M. Man/ individu yang akan memulai usaha. Money/ keuangan meskipun bukan hal yang menjadikan halangan untuk bergerak. Material/ bahan yang dipakai dalam usaha. Metode/ cara memulai usaha beserta prosesnya. Mesin/ alat yang digunakan dalam usaha dan terakhir yakni Market/ pasarnya dimana usaha tersebut akan ditawarkan.
Selain 6 hal tersebut yang harus menjadi penguatan utama, maka terdapat juga kerangkaAnalisa SWOT sebagai pertimbangan; dalam rangka merintis usaha (kekuatan, kekurangan, kesempatan dan peluang yang ada) dapat tercipta secara harmonis.
Upaya perintis usaha pemula juga menjadi bahan diskusi dalam saat pendampingan tersebut. Terdapat penjelasan bahwa banyak kesalahan yang biasa dapat kita ketahui bagi pemula yang sedang merintis usaha.
Contohnya, saat diadakannya pendampingan. Peserta pendampingan yang mengisi form tata kelola rintisan, sebagian menuliskan bahwa banyaknya pesaing; sepinya pasar dan faktor eksternal lainnya menjadikan dominasi yang seharusnya peluang berubah menjadi hambatan. Hal itu disampaikan oleh sejumlah pengelola usaha Geplak Salak, Minuman dan manisan Salak.
Dalam pendampingan jugs dijelaskan hal-hal yang menjadi perhatian dalam memulai rintisan usaha. Antara lain: pertama, memulai rencana studi kelayakan usaha. Kedua, menganalisa marketing mix diantaranya produk, harga, tempat, promosi, package, pengelola serta posisinya. Ketiga, menganalisa kebijakan keuangan usaha: karakter, kapital/ modal, Kapasitas/ kemampuan, jaminan, serta kondisi yang menyertai.
Dengan ragam pemberian edukasi dari mulai materi, adanya rencana tindak lanjut (RTL) dengan kegiatan berupa simulasi, presentasi, diskusi dan lainnya selama pendampingan; sangat memberi ruang yang baik bagi sejumlah petani salak untuk belajar bersama dalam ragam komunitas.
Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Mahasiswa Program Doktoral Universitas Airlangga Surabaya
