Saya begitu resah saat membaca kasus femisida yang kian meningkat setiap harinya. Dilansir dari Tirto.id 60% kasus ini terjadi di dalam rumah dan dilakukan oleh orang-orang terdekat. Ngerinya lagi, motif yang paling tinggi dari tindakan ini adalah kecemburuan. Motif yang hingga kini sulit saya cermati. Bagaimana mungkin seseorang bisa membunuh hanya karena cemburu?
Setelah saya renungi, mungkin faktor utama di balik kasus-kasus seperti ini, ialah relasi hubungan yang tidak sehat dan jauh dari kata setara. Oleh sebab itu, saya ingin mengajak kalian semua untuk belajar membangun “Healthy Relationship” melalui salah satu buku favorit saya. Buku ini berjudul “Sebuah Seni Untuk Memahami Kekasih” karya Agus Mulyadi.
Buku ini berisi 30 cerita tentang Mas Agus dan istrinya (Mbak Kalis) yang diceritakan dengan sangat ringan dan penuh tawa. Semua ceritanya diangkat dari berbagai kejadian jenaka di hidup mereka.
Kenapa saya justru mengajak belajar dari kumcer ini, bukannya buku khusus yang mengupas tips-tips tentang healthy relationship?
Sebab, saya percaya jika pengalaman seseorang akan lebih hidup di benak pembacanya, daripada narasi definitif yang sulit dipahami. Alih-alih paham, justru kantuk akan lebih dulu menyerang kalian. Iya kan?
Maka dari itu, berikut beberapa tindakan yang mencerminkan hubungan sehat dalam buku ini. Semoga kita semua mau dan mampu untuk terus belajar mempraktikkannya.
Mendukung dan Menghargai Pasangan
Di media sosial, kita bisa melihat branding diri Mas Agus dan Mbak Kalis yang terlampau berbeda. Berbagai konten Mas Agus seringkali berisi tentang isu-isu jenaka. Sedangkan, konten-konten dari Mbak Kalis bernuansa serius untuk menyuarakan isu kesetaraan gender.
Tapi, meski terlihat 180° berbeda, barangkali mereka sepakat perihal menghargai dan memotivasi pasangan. Hal ini terlihat dari cerita yang berjudul “RUU PKS”.
Ketika Mbak Kalis mengatakan jika dia harus menjadi narasumber di Metro TV, Mas Agus menyetujuinya dengan cepat dan justru berniat mendukungnya. Upaya dukungan ini terlihat dari keinginan Mas Agus untuk mengantar Mbak Kalis ke bandara saat pagi buta. Meski akhirnya hanya menjadi niat semata sebab Mas Agus tidak mampu bangun.
Cerita ini memberikan gambaran antara keduanya yang saling menghargai satu sama lain. Di satu sisi, Mas Agus menghargai passion dan keresahan Mbak Kalis. Di sisi lain, Mbak Kalis juga menghargai Mas Agus dengan tidak membangunkannya saat tidur. Sungguh cerita yang teramat lucu. Hehehe.
Jadi, perbedaan bukan lah suatu halangan. Justru karena berbeda, maka harus ada upaya untuk saling menghargai dan memotivasi pasangan kita.
Saling menerima kekurangan
Saya rasa semua orang selalu punya ekspetasi berlebihan pada pasangannya. Padahal, setiap manusia pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Daripada bersikeras ingin mengubah keburukan pasangan kita, lebih baik diterima saja, ya. Selama keburukan itu bukan lah kekerasan.
Dalam cerita berjudul “pesawat”, diketahui kalau Mbak Kalis ternyata sering melakukan kesalahan saat berurusan dengan bandara. Salah satunya seperti salah jam terbang. Meski dongkol sebab terlalu sering mendengar kesalahan itu, Mas Agus tetap mau membantu dan melihatnya sebagai kesalahan yang biasa.
Begitu juga dengan Mbak Kalis, yang memaafkan dan menganggap kecil keteledoran Mas Agus di Pasar Kangen. Singkat cerita, Mas Agus tidak sengaja meninggalkan Mbak Kalis di pasar itu. Indahnya, dengan permintaan maaf yang bertubi-tubi dari Mas Agus, justru Mbak Kalis malah tertawa.
Menerima kekurangan dan menganggap kesalahannya sebagai tindakan kecil adalah cara untuk melihat pasangan kita sebagai manusia biasa, yang kadang-kadang juga membuat salah.
Aktif berkomunikasi
Semua cerita di buku ini mengandung komunikasi dalam berbagai topik. Kedua pasangan ini selalu berdiskusi mengenai banyak hal. Mulai dari desain daster, membeli kalkulator, acara pernikahan, perasaan cinta, dan lain sebagainya.
Tapi, berkomunikasi dalam suatu hubungan tentu tidak selalu hangat. Adakalanya, saling adu pendapat. Seperti cerita “mobil” yang isinya perdebatan akan membeli Fortuner atau Honda Brio.
Di ujung argumen yang sengit, kedua sejoli ini kemudian tersadar jika mereka hanya mampu berdiskusi, tetapi tidak punya uang untuk membelinya. Cerita yang amat lucu dan sering terjadi pada kehidupan semua orang. Penting diskusinya dulu, eksekusinya kapan-kapan.
Jika antar pasangan bisa selalu mengkomunikasikan apapun, bahkan hal-hal yang dianggap remeh. Itu ada kunci utama untuk saling terbuka dan tidak curigaan pada pasangan. Komunikasi yang baik akan menghindarkan kita dari sifat cemburu.
Mengedepankan humor
Di buku “Menjadi Manusia Menjadi Hamba” karya Dr. Fahruddin Faiz menyebutkan jika humor adalah salah satu fitrah manusia. Melalui humor, manusia bisa bahagia dan bersih dari sumpeknya kehidupan. Barangkali inilah filosofi yang dipegang oleh Mas Agus dan Mbak Kalis.
Tidak hanya sekedar komunikasi, keduanya mengdepankan humor dalam setiap aktivitas itu. Seperti di cerita “Kompromi”, pasangan ini punya impian untuk membeli rumah dengan tanah yang ukurannya luas. Alasannya sederhana, agar bisa membuat hajatan yang meriah di pekarangan rumah.
Tapi, harga tanah kian mahal. Mereka harus memikirkan ulang bagaimana jika halaman rumahnya justru kecil. Kemudian, Mbak Kalis menjawab, “Ya nggak papa, minimal kita masih masih bisa menanggap topeng moyet,” keduanya tertawa bersama.
Kunci paling penting dari berpasangan ialah komunikasi. Semakin enak bila komunikasinya mengedepankan humor. Sebab, dengan humor isu-isu berat yang harus didiskusikan akan terasa lebih mudah. Selain itu, keduanya juga akan terhindar dari perasaan tersinggung.
Romantis
Terakhir, satu hal yang dianggap sepele dan sering terlupakan dalam pasangan, yakni romantis.
Orang selalu melakukan keromantisan di awal-awal hubungan saja, padahal sikap romantis harus lah dipupuk seiring berjalannya hubungan. Nabi Muhammad SAW sebagai suri tauladan umat islam adalah sosok suami yang romantis. Kalian pasti banyak tahu cerita antara Beliau dengan bunda Aisyah.
Nah, sikap romantis ini diterapkan oleh Mas Agus dan Mbak Kalis dalam hubungannya. Banyak cerita yang menunjukkan sikap ini, seperti cerita tentang bekal, edan, bosen, ayam goreng, dan sepatu. Di antara itu semua, cerita “bekal” sangat berkesan bagi saya.
Di ulang tahun Mbak Kalis yang ke-27, Mas Agus memberikan kado kompor sebab dia tahu jika kekasihnya suka memasak. Tak kalah dengan keromantisan Mas Agus, Mbak Kalis jadi sering mengirimkan bekal makan dari masakannya pada kekasihnya itu. Ah, keduanya sama-sama pengertian dan romantis.
Karena itu, tidak peduli telah berapa lama suatu hubungan berlangsung, tetaplah menjalankan keromantisan pada pasangan kalian, Guys.
Sungguh, healthy relationship dibangun dari laku-laku sederhana yang sering kita lupa. Ingat, kebahagiaan hanya bisa kita rasakan jika hubungan sehat telah terbentuk. Artinya, tak ada hubungan sehat yang memakai kekerasan.
Segini saja ulasannya, semoga tulisan ini menginspirasi dan membawa kalian untuk menciptakan hubungan yang sehat dengan pasangan kalian. Jangan lupa baca bukunya secara langsung, yaaa!
Penulis : Naimatul Chariro
Mahasiswa yang suka baca dan nulis apapun. Bisa ditemui di @Naimachr_ atau @Bukunay_
“Mencerahkan pemikiran, menggerakan nurani, membentuk perempuan Islam yang progresif dan berdaya”
