Site icon Inspirasi Muslimah

Bagi Anak, Ibu adalah Semestanya

seorang ibu anak

Apa yang terlintas di benakmu ketika mendengar kata “Ibu” ? Ibu adalah sosok malaikat tak bersayap yang ada di dunia. Tanpa kenal lelah menjadi madrasah bagi anak-anaknya. Mengajarkan sebuah arti cinta tanpa syarat di tiap hembusan nafasnya. Dari pagi hingga malam bersusah payah membahagiakan anaknya. Bagi anak, ibu adalah segala-galanya.

Kasih Sayang seorang Ibu

Sembilan bulan 10 hari, seorang ibu mendamba-dambakan kehadiran si buah hati. Hingga pada akhirnya,  lahirlah seorang anak ke dunia disambut dengan tangisan bahagia. Sejak saat itu, ibu selalu terjaga sepanjang malam, memastikan kondisi anaknya baik-baik saja. Setelah beranjak balita, masih jelas di telinga kita, betapa lembutnya suara ibu saat mengajari anak-anaknya berbicara. Ibu senantiasa sabar menuntun anaknya, dari yang terbata-bata hingga fasih mengutarakan kata. Dan ketika telah tumbuh dewasa, kita sebagai anak tentunya menyadari kehangatan pelukan seorang ibu selama ini.

Di saat kita mempunyai masalah, seolah-olah pelukan ibu adalah penawarnya. Di saat kita sedang berada di titik terendah dalam hidup, ibu selalu ada, menemani kita, kapan pun dan dimana pun. Selalu menggenggam tangan kita di saat terjatuh ataupun terluka. Ketika orang lain bisa duduk dan tertidur dengan lelap, seorang ibu justru memikirkan masa depan anak-anaknya di setiap waktunya. Kasih sayang yang tiada tara, selalu ibu curahkan sepanjang masa. Cinta kasihnya tidak akan pernah tergantikan oleh siapa pun itu.

Ibu adalah Malaikat Penolong bagi Anaknya

Beberapa jam yang lalu, kita mendengar berita penemuan jasad ibu sambil memeluk bayinya tertimbun erupsi Semeru atau seorang ibu yang rela wajahnya hitam tertutupi abu vulkanik demi melindungi anaknya. Berita tersebut merupakan salah satu dari sekian banyaknya bukti pengorbanan seorang ibu, rela berkorban demi anak meskipun nyawa taruhannya.

Selama masa kehamilan, seorang ibu mengalami kaki bengkak, jalan pun susah, perut engap, terjaga sepanjang malam, dan lain-lain. Dari emosi yang naik turun, mudah menangis hingga mual maupun muntah selalu ibu rasakan. Mengupayakan segala cara agar bayinya dalam keadaan baik-baik saja sekalipun raganya harus tersiksa. Saat melahirkan pun, seorang ibu harus menanggung sakit sebanyak 57 Del (setara dengan 20 tulang rusuk yang dipatahkan bersamaan). Padahal, umumnya badan manusia hanya bisa menanggung rasa sakit sebanyak 45 Del. Apakah seorang ibu pernah mengeluh? Tidak pernah, ia bukanlah wanita yang lemah, karena seorang ibu akan berjuang dan berkorban  demi anak-anak yang ia cintai.

Kemuliaan seorang Ibu

Selama ini selalu kita dengar mengenai surga berada di bawah telapak kaki ibu. Apakah maksud dari kalimat tersebut? Maksudnya adalah seorang ibu merupakan sosok wanita mulia yang di dalam ridanya ada surga bagi anak-anaknya. Tentunya kita dapat meraihnya dengan mengamalkan perilaku rendah hati, patuh, dan hormat kepadanya. Di balik perjuangan dan pengorbanan seorang ibu, Islam menempatkan ibu pada posisi yang sangat mulia, sehingga anak wajib hormat kepada ibu terlebih dahulu, sebelum kepada ayah. 

Dari Mu’awiyah bin Haidah Al Qusyairi r.a., beliau bertanya kepada Nabi:

يا رسولَ اللهِ ! مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ : قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أباك ، ثُمَّ الأَقْرَبَ فَالأَقْرَبَ

“Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya.” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, sanadnya hasan)

Dikutip dari laman Muslimah.or.id, Imam Al-Qurthubi menjelaskan, hadist tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi Muhammad saw.  menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali. Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut. Karena kesulitan dalam menghadapi masa hamil, kesulitan ketika melahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu.

Hal ini bukan untuk membedakan kasih sayang kepada ibu dan ayah tetapi lebih kepada keutamaan berbakti kepada ibu dalam Islam karena telah melahirkan kita ke dunia ini dan telah berjuang dan berkorban demi anaknya. Sudah sepantasnya kita sebagai anak harus berbakti kepada ibu. Jangan sampai setetes air mata pun jatuh membasahi kedua pipinya karena ulah kita. 

Memperlakukan ibu dengan baik adalah satu hal yang dianjurkan dalam Islam. Jika banyak cara untuk bisa membahagiakan ibu, mengapa memilih jalan untuk durhaka kepadanya? Tidak harus soal materi, bahkan harus menunggu kaya agar bisa membahagiakan orang tua terkhususnya ibu. Seorang ibu tidak melihat seberapa harta yang kita berikan untuknya, melainkan seberapa ketulusan hati kita untuk membahagiakannya.

Ibu adalah Semesta bagi Anaknya

Kebahagiaan ibu adalah segalanya bagi anak. Selagi bisa melihat senyuman terlukis di bibirnya maka semesta akan baik-baik saja. Namun, terkadang secara tidak sadar, kita melukai perasaannya. Perasaannya terluka karena ulah kita tetapi ia sembunyikan untuk melihat kita tetap bahagia. 

Kasih sayang seorang ibu kepada anaknya tak lekang oleh waktu. Walaupun bertambah usianya, kehangatan genggaman tangan dan pelukannya pun masih tetap sama. Senyuman yang merekah di bibirnya bagaikan mentari yang menyinari dunia. Pancaran matanya meneduhkan di tiap keluhan anaknya. Suatu saat nanti, betapa pun terpisah antara ruang dan waktu, sosok ibu akan selalu melekat di hati dan tak akan pernah terganti.

Sebuah pesan untuk ibu, “Terima kasih telah membersamaiku sampai sekarang. Terima kasih atas apa-apa yang telah engkau upayakan agar anakmu bahagia. Terima kasih sudah menjadi garda terdepan ketika aku meringis kesakitan. Bagiku, ibu adalah duniaku. Pusat kebahagiaan alam semestaku. Melihatmu bahagia adalah harapanku. Ibu, aku mencintaimu”

Bagikan
Exit mobile version