Site icon Inspirasi Muslimah

Bagaimana Orang Tua Merusak Anaknya?

dari bapak

Itu terlihat sebagai judul yang mengada-ada, tidak masuk akal, juga tidak mungkin. Siapa pula yang tega merusak anaknya, paman saya bahkan pernah bilang. “Bahkan macan sekalipun tak ingin menerkam anaknya sendiri”. Itu terlihat seperti kalimat apologi dan deklaratif. Tetapi sebagai pandangan umum, beliau hendak mengutarakan bahwa hubungan anak dan orang tua adalah hubungan cinta dan kasih sayang. Itu benar. Tapi secara konseptual dalam hubungannya dengan relasi konseptual itu sering keliru.

Saya bersyukur tumbuh berkembang pada suasana demokratis dalam keluarga, Bapak dan Ibu tidak pernah memaksakan kehendaknya, kecuali dalam hal-hal tertentu. Tiap pagi, Ibu telah bangun membuat teh untuk segenap anggota keluarga, kami berdiskusi banyak hal. Tidak dalam suasana ketegangan, susasana terus mengalir, bahkan hingga saya menginjak usia 23 tahun sekalipun.

Sebagai petani, Bapak tidak pernah memaksakan kehendak untuk menjadikan saya petani jua. Perihal pendidikan, beliau menyarankan saya kuliah bidang psikologi, tetapi saya memiliki minat lain, bidang pendidikan Islam, beliau menerima dengan lapang. Bapak menginginkan saya menjadi PNS, tapi saya punya tujuan lain, dan lagi beliau menerima dengan terbuka.

Mungkin dalam suasana harmoni yang demikian itulah, saya kerap tak sependapat dengan pola pendidikan otoriter, sebuah bentuk pola pendidikan yang secara sadar ataupun tidak langsung sering dipraktikkan oleh banyak orang tua.

Hubungan Hegemonik Orang Tua dan Anak

Saya telah banyak menerima kisah dan cerita hubungan anak dan orang tuanya, dan dari mereka, saya melihat betapa banyak yang merasakan rumah sebagai “neraka”; ialah ruang yang selalu diisi dengan pertengkaran, pembangkangan, pemaksaan kehendak, dan penindasan. Tak heran, anak itu tumbuh dengan nalar yang tumpul, inspirasi yang mati, dan daya kreativitas yang lemah. Sebuah bentuk “pengrusakan” yang tidak tampak.

Bagaimana orang tua merusak anaknya? Pola itu mula-mula terbentuk dari relasi kuasa yang dilanggengkan. Sebuah relasi yang timbul dalam asumsi bahwa salah satu dari kedua pihak ada yang superior sementara yang lainnya inferior. Asumsi ini telah menghadirkan pola relasi yang timpang, di mana sering orang tua menganggap dirinya lebih kuat dan dengan itu ia dapat sekehendak bebas untuk mengatur anaknya, bahkan merenggut kebebasannya.

Orang tua mengajar murid belajar, orang tua mengetahui segala sesuatu dan anak tidak memahami apa-apa, orang tua berpikir dan anak dipikirkan, orang tua bercerita dan anak patuh mendengarkan, orang tua membentuk aturan lalu anak patuh pada aturan, orang tua memilih dan anak menjalani pilihan, orangtua adalah subjek dan anak adalah subjek. Dasar pemikiran ini pernah diutarakan Paulo Freire saat menjelaskan hubungan hegemonik dalam dunia pendidikan.

Pola tersebut di atas adalah hubungan hegemonik yang sering dipraktikkan orang tua kepada anaknya. Anda orang tua mungkin merasa itu tidak mungkin, itu wajar, tetapi mesti dipahami relasi itu berjalan lebih sering memang tidak tampak nyata. Pierre Bordeau, Sosiolog Prancis meggambarkan bahwa upaya orang tua untuk membentuk kehidupan anak sesuai dengan kehendak idealnya adalah bentuk kekerasan, sekurang-kurangnya kekerasan simbolik.

Dampak Otoriter

Mari kita bayangkan akibatnya, dalam dunia komunikasi yang kian terbuka ini, bila anak tidak merasakan kebahagiaan di dalam rumahnya, ia dengan dorongan psikologinya akan mencari kebahagiaan  dan kebebasan di luar rumah. Beberapa anak memilih pergaulan yang lebih terbuka dengan teman-temannya. Di luar mereka berinteraksi dengan kehidupan bebas, lalu, mereka kembali dengan setumpuk masalah yang sudah berat. Beberapa bahkan menjadi tersangka atau terjebak dalam pergaulan bebas. Sebuah akibat yang buruk.

Bukan itu saja sebenarnya, ia tumbuh dengan nalar yang tumpul, terbiasa dalam keterkungkungan menutup keran pemikirannya untuk mencari jalan keluar sendiri, secara mandiri.

Kehidupan otoriter di dalam rumah berdampak fatal pada kehidupannya, ia tampil sebagai individu yang “mati langkah”. Pola itu terus berlanjut ketika iapun jua memiliki anak, ia menindas, memaksakan kehendak, dan sungguh, merusak. Bila ia seorang kakak, ia akan mempraktikan pola pendindasan kepada adiknya dengan menggertak, memaksa dan bersikap sekehendaknya.

Ketika hidup dalam lingkungan masyarakat, ia inferior, anti-sosial, dan nir-empati. Bila tiba waktunya memiliki kuasa dengan kehidupan sekitarnya, ia mempraktikkan pola hubungan yang sama dengan orang tuanya, mendominasi orang lain, dan menindas. Beberapa orang tua mengeluh soal anaknya yang individualis, pembangkang dan keras kepala. Padahal sikap itu adalah bentukan tidak langsung atas apa yang dilihatnya di dalam keluarga.

Inilah pola hubungan yang menjadi dasar pengrusakan bagi kehidupan anak, pola yang dibangun di dalam rahim keluarga, suatu ruang yang idealnya mampu menjadi ladang bagi kehidupan demokratis. Anda bisa beralasan bahwa sikap otoriter itu adalah sebab cinta yang mendalam kepada anak-keturunan.

Manifestasi Harmoni

Pada posisi itu anda harus menyadari bahwa manifestasi cinta yang berlebihan, yang mewujud pemaksaan kehendak adalah bentuk penghinaan pada kemuliaan cinta dan kasih-sayang. Maka, tidak ada cinta dalam penindasan, tidak ada kasih sayang dalam dominasi satu pihak atas pihak yang lain. Cinta adalah harmoni, dibangun di atas dialog yang demokratis, dalam hubungan yang saling menghargai, juga saling memanusiakan, bukan hubungan subjek-objek.

Catatan ini, terlebih kepada orang tua yang anaknya sudah tumbuh meremeja, akil baligh. Bahwa telah tiba waktunya mereka timbul dengan dirinya sendiri, berdiri diatas pertimbangan-pertimbangan akalnya sendiri. Bersikap dengan sikapnya sendiri, dan hidup dengan kehidupannya sendiri.

Maka bebaskanlah mereka terbang dengan sayapnya sendiri, jua mengalir dengan kehendaknya sendiri, tentu tanpa melupakan dialog harmoni dan komunikasi yang dialektis antar kedua belah pihak (orang tua dan anak).

Bagikan
Exit mobile version