Kami memperhatikan perilaku anak sulung kami. Ia susah untuk bangun pagi dan cenderung marah jika dibangunkan dengan cara yang “asyik” menurut para orang tua seperti kami. Pernah kami menyaksikan ia menahan tangis ketika harus “iqamah” untuk shalat subuh berjamaah. Tapi itu menurut kami lucu dan menggemaskan.
Jadi, anak-anak kecil yang menurut medis harus tidur cukup sekitar 7-8 jam setiap hari, ternyata harus istirahat kurang dari itu. Setelah subuh, ia harus belajar, memastikan ia mengerjakan pekerjaan rumah dengan baik, membaca kembali materi-materi yang akan dipelajari di sekolah nanti dan mempersiapkan peralatan sekolah yang diperlukan.
Dalam hal sarapan, seragam, uang saku, instruksi kue apa saja yang boleh dijajan dan tidak, proses keberangkatan dan kepulangan, Mamanya mempersiapkan dengan baik. Meskipun, seringkali juga jadwal pengantaran dan penjemputan ditangani oleh Papanya, terutama ketika cuaca kurang baik atau sedang hujan.
Dalam kondisi yang kurang sehat, pernah suatu ketika bangunnya sedikit agak terlambat. Kami memaklumi dan membiarkan hal itu terjadi. Tetapi kemudian, ia terburu-buru berangkat ke sekolah dan belum sempat menyelesaikan sarapannya. Bekal makan siang mungkin bisa menjadi solusi atas masalah ini.
Tapi ternyata, dengan kondisi yang kurang sehat, kesiangan, hampir terlambat, terburu-buru, dan lainnya, sangat mempengaruhi mood-nya. Suasana hatinya rentan emosi. Tentu saja hal ini mengkhawatirkan, karena berkaitan dengan apakah dia mampu memperhatikan gurunya dengan baik ketika pelajaran berlangsung atau sebaliknya.
Secara normal, sekolah berlangsung dari pukul 7 pagi hingga 3:30 sore hari. Ada untungnya juga anak-anak lebih lama menghabiskan waktunya di sekolah ketimbang di rumah. Terlebih bahwa gawai elektronik kerap menjadi alat yang menyebabkan adiktif bagi anak.
Sayangnya, kami pikir, mata pelajaran yang dimiliki sekolah terlalu banyak: 10. Bahkan di antara pelajaran-pelajaran itu, lebih banyak menekankan “menghafal” ketimbang memahami atau sekedar menyukainya. Anak yang duduk di sekolah dasar, mestinya difasilitasi agar berproses menjadi anak yang berusaha memahami atau mencintai ilmu pengetahuan. Kami tahu masalahnya bukan pada sekolahnya, tapi kebijakan kurikulum pendidikan di tingkat kementerian.
Kami berpikir, mata pelajaran dan tujuan pendidikan yang ada saat itu kurang ideal. Maka kami baca buku-bukunya, target-target pelajarannya, model evaluasinya, soal-soal yang disajikan, ujian harian, ujian tengah semester, ujian akhir semester, dan seterusnya, kami lihat sangat merepotkan, membebani dan menurut pendapat kami pribadi, tidak membuat anak menjadi pintar. Anak seperti berhadapan dengan “ujian hidup terus-menerus” tanpa dibekali sedikit pun mengenai pemahaman, kreativitas, daya nalar kritis, dan kecintaan akan ilmu.
Kami menyaksikan betapa mereka merasa menderita ketika harus berangkat ke sekolah. Tapi sebaliknya, mereka menjadi sangat gembira ketika pulang sekolah. Seperti narapidana yang keluar dari penjara. Mereka merasa merdeka. Tapi bagi sebagaian anak, hal itu hanya sementara. Sisanya adalah merampas waktu main yang seharusnya mereka miliki dengan berbagai kegiatan lainnya pada sore hingga malam hari. Harus les, harus belajar kembali, harus mengerjakan pekerjaan rumah, belum lagi mereka yang harus membantu orang tuanya. Anak bekerja keras sangat ekstra.
Di malam hari, mereka hanya punya waktu luang sekitar mungkin satu atau setengah jam sebelum mereka harus segera beristirahat. Kalau tidak, para orang tua akan memarahinya. Mereka akan dicap hanya bersenang-senang, menghabiskan waktu dengan gawai elektronik, tidak pernah belajar, menonton terlalu larut dan banyak lagi alasan yang bisa dibuat oleh para orang tua. Hidup anak-anak terlalu teratur, atau lebih tepatnya diatur secara ketat.
Ketika hari Sabtu (sore) dan Minggu, terkadang, anak-anak masih harus menghadiri kegiatan “ekstra” sekolah di luar segala sesuatu yang terdesain secara normal. Terutama adalah berbagai kegiatan yang bersifat seremonial, simbolik dan formal, yang tentu saja sama sekali tidak berkaitan dengan waktu dan suasana “libur” bagi anak-anak. Kami tidak tahu apakah tulisan ini mewakili suara hati anak-anak atau para orang tua sebenarnya juga memiliki empati dan merasakan hal yang sama.
Masalahnya adalah kami juga tidak melihat adanya tempat belajar atau sekolah alternatif yang menyenangkan bagi anak-anak. Mungkin juga, tidak mungkin bagi sekolah-sekolah alternatif jika mereka harus menjalankan kurikulum sekolah yang tidak mengikuti kebijakan nasional.
Kami sebenarnya mengidamkan adanya sekolah yang membuat anak-anak bergembira, tidak punya pekerjaan rumah, tidak menghafal, tidak ada sistem yang bersifat otoriter. Di samping itu, tidak harus berseragam berkemeja yang mudah kotor (mungkin seragam sekolah berupa kaos yang nyaman), yang kurikulumnya menekankan pemahaman, kreativitas, daya nalar kritis, cinta akan ilmu pengetahuan, yang tidak perlu ujian (bisa diganti dengan perlombaan berhadiah), dan didesain sebagai tempat bermain yang menyenangkan dengan para guru yang ramah, baik dan juga kreatif.
Sayangnya itu semua tidak ada. Sekolah masih menjadi penjara pendisiplinan perilaku anak. Atau kami yang belum tahu kalau sebenarnya memang ada sekolah yang ramah anak?
Dosen UMM dan Direktur Riset RBC Institute A. Malik Fadjar
