Mungkin kita semua pernah mengalami, pagi-pagi berangkat kerja sambil terburu-buru. Lalu ketika sudah agak jauh, baru inget ternyata gadget (gawai) kita ketinggalan. Lalu tanpa mikir lama, kita balik lagi untuk mengambilnya. Kita lebih rela ketinggalan dompet daripada ketinggalan gawai. Karena hari ini gawai lebih penting dari dompet.
Di awal kehadirannya handphone hanya berfungsi sebatas untuk menelpon dan bertukar pesan. Saat itu handphone jadi solusi hambatan komunikasi. Misalnya bagi anak kost komunikasi dua arah dengan orang tua tetap terjalin dengan baik. Bagi para perantau bisa tetep menjalin komunikasi dengan keluarga. Begitu juga untuk urusan-urusan pekerjaan, dengan komunikasi yang tak terbatas pengambilan keputusan bisa jadi lebih cepat.
Ketika handphone berevolusi jadi smartphone, Tanpa kita sadari ketergantungan kita padanya jadi begitu besar. Karena ia menjelma bukan lagi sekadar sebagai alat komunikasi. Dengan berbagai aplikasinya, ia menawarkan kita berbagai kemudahan yang memanjakan. Media sosial (medsos), hiburan, belanja dan berbagai kemudahan lainnya hanya tinggal klik.
Seiring meningkatnya penetrasi internet, bertambah pula pengguna media sosial. Hasil riset yang dilakukan Wearesosial Hootsuite, dari total populasi Indonesia sebanyak 274,9 juta jiwa, pengguna aktif media sosialnya mencapai 170 juta. Medsos termasuk aplikasi yang banyak menyita waktu. Medsos menciptakan dunia baru yang mengikis sekat-sekat geografis. Tempat “nongkrong” dan menunjukan menunjukan eksistensi diri. Karena di medsos kita bisa tampil dengan “topeng” yang kita inginkan.
Youtube merupakan platform paling digemari dibanding platform medsos lainnya. Youtube selain sebagai medsos juga berfungsi sebagai media hiburan yang menyajikan tontonan dengan pilihan sangat beragam. Dengan sistem filter buble ia melakukan kustomisasi. Ia mempelajari perilaku kita. Ia begitu mengerti apa yang kita ingin tonton, dengan menyarankan kita menonton video-video lain yang relate dengan video yang kita tonton sebelumnya. Akhirnya kita susah untuk berhenti. Dan sekarang orang lebih banyak “berkerumun” di medsos dibanding di depan televisi.
Efek Nehgatif dan Positif
Kalau kita lapar tapi malas masak atau malas pergi keluar, kita tinggal ambil gawai dan membuka aplikasi layanan pesan antar makanan. Kita dapat memilih menu makanan dari berbagai restoran. Semua dapat diselesaikan hanya dengan beberapa kali klik. Tunggu beberapa saat, akan ada yang mengantarkan makanan ke rumah. Bukan hanya itu kebutuhan fashion sampai kebutuhan perabot rumah tangga dapat dibeli di online shop tanpa harus bermacet-macet di jalan dan ngantri di kasir.
Kini gawai sudah menjadi bagian dari hari-hari kita. Kemana pun kita pergi, ke ruang rapat, ke tempat ibadah, ia menjadi teman paling setia yang akan selalu kita bawa. Bahkan saat sedang tidur, gawai selalu ada di samping kita. Saat kita terbangun aktivitas pertama adalah membuka gawai. Yah sekadar melihat percakapan di grup. Melihat jumlah like postingan kita. Atau hanya ingin tahu apa yang sedang trending.
Selain memberikan banyak manfaat, penggunaan gawai yang berlebihan memberikan dampak negatif. Itulah keterbatasan teknologi buatan manusia. Sebanyak apapun manfaat yang dihasilkan, selalu menyisakan efek negatif yang tidak bisa dihindari. Kehadiran efek negatif dari gawai bisa langsung dan ada yang tidak langsung.
Efek negatif langsung dapat kita rasakan sebagai gangguan yang bersifat fisik. Masalah penglihatan seperti mata lelah termasuk penurunan penglihatan akibat terlalu fokus pada layar gawai. Menggangu pola tidur ketika kita main game atau menonton film sampai larut malam. Pengunaan gawai dalam waktu lama dan berulang lambat laun akan merubah postur tubuh secara permanen. Tubuh menjadi lebih membungkuk, posisi leher menjadi semakin maju ke depan, atau bentuk bahu jadi melengkung.
Efek yang tidak langsung, tanpa kita sadari kehadiran gawai seakan menjadi sekat hubungan antar personal kita. Ia membuat kehadiran kita tidak lagi utuh. Ada kehangatan yang hilang. Gawai membuat interaksi kita di dunia nyata jadi dingin dan kering. Kita susah untuk fokus, karena perhatian kita terbagi sebagai akibat banyaknya informasi yang harus kita respon.
Keluarga Tanpa Gawai?
Bagi kita yang sibuk bekerja, akhir pekan adalah saat yang tepat untuk quality time. Setelah sepekan sibuk dengan aktivitas yang padat, perlu kiranya kita sehari relaksasi menghabiskan waktu bersama keluarga. Idealnya waktu tersebut dapat dimanfaatkan untuk menambah keakraban dan meningkatkan kehangatan antar anggota keluarga. Namun itu tidak mudah, karena ada gawai di antara kita. Kini setiap anggota keluarga tak pernah bisa lepas dengan gawainya. Tidak ada lagi suasana nonton televisi bersama diiringi drama rebutan remote. Nonton siaran yang sama, diselingi obrolan saat iklan.
Malang sekali anak-anak kita hari ini. Seorang ayah bisa saja seharian ada di rumah menghabiskan hari liburnya. Namun bila seharian pula ia sibuk dengan gawainya. Maka kehadiran di rumah hanya eksistensial. Tidak esensial. Artinya sama saja dengan tidak ada. Tak heran bila saat ini banyak anak yang kesepian dan rindu sosok orang tua padahal tiap hari orang tuanya ada. Anak kehilangan lingkungan yang mendukung kebutuhannya. Dan sebagai pelariannya adalah gawai .
Pengajar
